Dari Sasando sampai Sitar bag3

Etnomusikolog pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Irwansyah Harahap, mengatakan bentuk instrumen dawai Nusantara mayoritas resonatornya berbentuk seperti sampan. Keunikan instrumen seperti ini, menurut dia, kebanyakan hanya memiliki satu dan dua senar string. Itu berbeda dengan alat musik dawai Barat, yang selalu memiliki empat senar atau lebih. Bagi Irwansyah, instrumen dawai Nusantara merupakan tipologi alat petik paling tua. Tangga nada pentatonik atau lima not per oktaf juga hanya ditemukan di Nusantara.

Hartoyo Hardjo Soewito, atau yang dikenal sebagai Yoyok Harness, dalam kesempatan itu juga menyajikan sitar dan purwarupa instrumen dawai ciptaannya sendiri. Yoyok pernah mengambil kuliah jurusan antropologi musik di Karnataka University, Dharwad; dan Halim Academy of Sitar, Mumbai, India. Menurut Yoyok, dibutuhkan waktu setahun untuk membuat purwarupa dengan kualitas suara yang bagus. Untuk membuat sitar, Yoyok belajar ilmu rancang bangun instrumen dari seorang gipsi Belgia yang bermukim di Bali. ”Suara yang dihasilkan sempurna,” ujarnya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *