Pada 4 Februari 2016, RS Sarah di Medan resmi mempunyai direktur baru, yaitu dr. Beni Satria, M.Kes. Dalam sambutan pelantikannya, dokter Beni menjelaskan RS Sarah semakin berkembang sejak diakuisisi pemilik baru. “Namun tugas berat telah menanti. Saat ini memasuki Era MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) yang memperbolehkan masuknya para pekerja dari seluruh negara Asia.

Baca juga : toefl ibt jakarta

Saya berharap, seluruh karyawan RS Sarah dapat bekerja dengan lebih baik dan profesional dalam menghadapi persaingan, agar tidak terkalahkan oleh tenaga kerja asing.” RS Sarah saat ini memiliki 18 dokter spesialis kebidanan dan kandungan (7 subspesialis), 10 dokter spesialis anak (4 subspesialis), 4 dokter spesialis penyakit dalam (2 subspesialis), 1 dokter spesialis bedah umum, 1 dokter spesialis bedah ortopedi, 1 dokter spesialis THT, 1 dokter spesialis saraf, 1 dokter gigi, dan 9 dokter umum.

Rumah sakit ini juga dilengkapi beberapa alat canggih, termasuk USG 4 Dimensi dan Ekokardiografi (USG Jantung) dan lainnya. Dokter Beni juga berharap, RS Sarah dapat memberikan pelayanan bermutu, cepat, tepat, dan ramah kepada setiap pasien, tanpa membedakan suku, agama, ras dan status ekonomi. “Kami ingin memberikan pelayanan kesehatan secara terpadu, yang berfokus pada pasien dengan komitmen kerja sama tim.

Kami juga berharap RS Sarah dapat kembali menjadi salah satu rumah sakit terbaik di Medan yang sejajar dengan rumah sakit terbaik lainnya, terutama dalam hal pelayanan,”ujarnya. Perlu diketahui juga, di RS Sarah tersedia pelayanan laparoskopi (bedah minimal invasif) dengan konsep one stop service. Diharapkan setiap keluhan pasien dapat selesai dengan pelayanan yang terintegrasi satu dengan lainnya ini.

Terbuka Soal Kematian

Saat ada anggota keluarga yang meninggal, sebaiknya Mama Papa tidak menutup-nutupi rasa duka di depan anak. Tidak perlu takut menangis secara terbuka, lalu jelaskan pada anak bahwa Mama Papa merasa sedih dan kehilangan, sama seperti dirinya. “Pada usia ini anak sudah paham kematian itu sifatnya permanen dan tidak bisa dihindari,” kata Michael Towne, pakar dari University of California-San Francisco Medical Center. Menutup-nutupi rasa sedih dan menghindari pembicaraan seputar kematian anggota keluarga akan membuat anak berpikir bahwa kematian dan kedukaan adalah hal yang misterius dan tabu.

Sumber : https://pascal-edu.com/

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *