Dari Nusantara 21 Hingga Palapa Ring bersama fin888 – Rencana Pitalebar Indonesia (RPI) atau Indonesia Broadband Plan (IBP) untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia tak akan berjalan tanpa adanya infrastruktur pendukung. Infrastruktur pendukung itu tentu jaringan pita lebar itu sendiri. Sama halnya kegiatan perdagangan yang membawa hasil alam di desa untuk dijual di kota tak akan ber jalan tanpa adanya infrastruktur jalan raya sebagai pendukung kegiatan distribusinya. Untuk itu, RPI dimulai dengan menggelar jaingan pita lebar yangmelingkari seluruh wilayah nusantara, dari barat hingga timur.

Dari 1998, molor ke 2007 Cita-cita membangun jaringan pita lebar di seantero nusantara sesungguhnya bukan rencana baru. Sejak masa pemerintahan Orde Baru, pemerintah sudah mencanangkan pembangunan jaringan pita lebar ini dengan nama Nusantara21. Terhantam krisis ekonomi 1998, rencana ini terbengkalai. Rencana pembangunan infrastruktur telekomunikasi serupa dengan rencana nusantara superhighway itu kembali menguak di tahun 2005 pada Infrastructure Summit I. Muncul ide Cincin Serat Optik Nasional (CSO-N) yang diprakarsai oleh PT Tiara Titian Telekomunikasi (TT-Tel). Aplikasi itu adalah jaringan kabel kasar di bawah laut dengan bentuk cincin. Cincin-cincin frekuensi pita lebar ini terintegrasi dan membentang mulai dari Sumatera Utara sampai Papua bagian barat.

Setiap cincin akan meneruskan akses frekuensi pita lebar ke setiap kabupaten. Akses itu bisa mendukung jaringan serat optik pita lebar dengan kecepatan tinggi sebesar kapasitas 300 gbps hingga 1.000 gbps di daerah tersebut. Pemerintah kemudian memopulerkan gagasan itu dan diberi nama Palapa O2 Ring. Akan tetapi karena nama itu mirip dengan merek dagang salah satu ponsel di Eropa maka, pemerintah mengubah nama proyek serat optik ini dengan nama Palapa Ring. Awalnya proyek ini akan dibiayai dari dana patungan anggota konsorsium operator telekomunikasi di Indonesia, sehingga pembangunan jaringan tak memakan dana APBN.

Di bentuklah konsorsium yang terdiri dari tujuh operator, PT. Bakrie Telecom Tbk, PT. Excelcomindo Pratama Tbk, PT. Indosat Tbk, PT. Infokom Elektrindo, PT. Macca System Infocom, PT. Powertek Utama Internusa, dan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Namun, seiring waktu satu persatu operator mundur dengan alasan masing-masing. Akibatnya, semakin menyusutnya dana yang digunakan untuk membangun Palapa Ring. Meski jumlah peserta konsorsium terus menyusut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tetap meluncurkan program ini secara simbolis pada 2009. Tiga peserta konsorsium yang tersisa saat itu adalah PT Telkom, PT Indosat, and PT Bakrie Telecom. Meski akhirnya hanya Telkom yang tetap berkomitmen dengan program pembangunan jaringan serat optik ini.

Sumber : https://net89.net/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *