100 Tahun Menjaga Perak Celuk Bag14

Meski beberapa masih ramai pengunjung, sebagian besar hidup segan mati tak mau. ”Tak sebu lan sekali ada tamu. Kami hanya menunggu waktu,” kata Made Kitha. Apalagi anak-anaknya sudah memiliki usaha lain dan sepertinya enggan melanjutkan art shop-nya. Di tengah situasi kerajinan perak yang memprihatinkan, belakangan ada orang-orang di desa itu sangat yakin dan optimistis Celuk akan bangkit kembali. Wayan Wiasta, misalnya, justru membuka art shop baru. ”Lebih tepatnya semacam bengkel kerja dan tempat menyimpan koleksi lama. Kebetulan anak saya tertarik juga melanjutkan,” ujarnya. Wiasta tak rela kerajinan perak Celuk yang telah berusia 100 tahun itu hilang ditelan zaman bersama seluruh keindahannya.

Leave a comment

Your email address will not be published.