Kunjungan KPUke Gramedia Majalah

PA SIH ukuran sukses tidaknya pemilihan umum di suatu negara? Salah satunya, jumlah peserta dalam pemilu tersebut sebanding dengan jumlah calon pemilih yang ada. Agar bisa mencapai jumlah yang optimal, maka diperlukan sosialisasi yang luas sekaligus kreatif, di antaranya kepada para pemilih perempuan yang biasanya kurang peduli terhadap percaturan elite politik. Kondisi ini disadari oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), seperti dikatakan, Husni Kamil Manik, SP, Ketua KPU RI periode 2012-2017 kala berkunjung ke kantor Gramedia Majalah. Kenyataannya, masih banyak persoalan terkait hak-hak perempuan yang belum disuarakan secara proporsional di tingkat nasional. Demi menjembatani kepentingan itu, KPU membuat kebijakan, “Salah satu persyaratan untuk pencalonan harus memenuhi keterwakilan perempuan sebanyak 30% di setiap daerah pemilihan. Keterpenuhan 30% adalah syarat minimal. Kalau dia [partai] mengajukan tiga nama, maka 1 di antara 3 itu harus perempuan. Dua nama saja, salah satunya harus perempuan. Kalau lima nama, minimal harus ada 2 perempuan. Kalau tujuh, harus ada 3 perempuan.” Tentu saja, kita berharap para perempuan yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif paham pokok permasalahan perempuan di Indonesia. Tanpa itu akan sulit bagi mereka untuk membuat peraturan yang berpihak kepada perempuan. Oleh karenanya, ayo jadilah pemilih yang cerdas. Gunakan hak pilih kita sebagai perempuan, sebagai ibu, dan sebagai warga negara yang memiliki hak-hak politik sama seperti warga negara RI lainnya

Leave a comment

Your email address will not be published.