Categories
Berita

Korea Utara Kerap Tolak Proposal Denuklirisasi

WASHINGTON — Korea Utara dilaporkan berulang kali menolak proposal denuklirisasi yang dibuat Amerika Serikat. Situs berita Vox melaporkan, Amerika meminta Pyongyang memangkas persenjataan nuklir sebesar 60-70 persen dalam waktu enam atau delapan bulan ke depan. Serta diminta menyerahkan hulu ledaknya ke pihak ketiga. Sebagai gantinya, Amerika akan mencabut sanksi ekonomi dan menghapus Korea Utara dari daftar sponsor negara terorisme. Mengutip dua sumber anonim yang akrab dengan masalah ini, Vox melaporkan, Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo telah mengajukan tawaran kepada Kepala Intelijen Nasional Korea Utara, Kim Yong-chol, berkali-kali tapi hampir selalu ditolak. Hal-hal rumit lainnya, Korea Utara belum mengungkapkan kepada Amerika, jumlah bom nuklir yang dimilikinya sehingga sulit memverifikasinya. Gedung Putih tidak berkomentar banyak, meski tidak menyangkal bahwa Menteri Pompeo telah mengajukan proposal berulang kali kepada Pyongyang. Gedung Putih menyarankan agar meminta komentar Departemen Luar Negeri.

Namun, Departemen Luar Negeri tidak segera menanggapinya. Seperti dilansir South China Morning Post, kemarin, hampir dua bulan setelah pertemuan antara Presiden Amerika Donald Trump dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, di Singapura pada 12 Juni lalu, negosiasi denuklirisasi—disebut-sebut denuklirisasi lengkap—antara kedua negara dinilai gagal dalam beberapa hal. The Washington Post, mengutip pejabat senior Amerika, melaporkan, pada Senin dua pekan lalu, bahwa Korea Utara tampaknya membangun satu atau dua misil balistik antarbenua baru. Rudal balistik dibuat di fasilitas di Sanumdong, pinggiran Pyongyang. Penasihat Keamanan Nasional John Bolton frustrasi dengan kemajuan negosiasi dengan Korea Utara dalam beberapa hari terakhir. “Korea Utara belum mengambil langkah-langkah yang kami rasa perlu untuk denuklirisasi,” ujar dia kepada Fox News Channel, Selasa lalu. Adapun Korea Utara, seperti dilansir KCNA, situs berita Korea Utara, menyatakan tetap bersedia mengimplementasikan kesepakatan puncak 12 Juni antara Presiden Trump dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. Kementerian Luar Negeri Korea Utara menegaskan, Pyongyang telah menghentikan uji coba nuklir dan rudal, membongkar tempat uji coba nuklir, dan mengembalikan sisa-sisa kerangka beberapa tentara AS yang tewas dalam Perang Korea 1950-53. Namun Korea Utara menuduh pejabat tinggi Amerika membuat tuduhan tak berdasar terhadap Pyongyang dengan mengintensifkan sanksi dan tekanan internasional. ”Selama Amerika tidak sopan dengan mitra dialognya dan menerapkan skrip akting yang sudah ketinggalan zaman, tidak akan diperoleh kemajuan apa pun dari pertemuan bersama DPRK dengan Amerika, termasuk denuklirisasi,” kata kementerian. DPRK atau Democratic People’s Republic of Korea adalah nama lain Korea Utara. ”Mengharapkan hasil apa pun, sedangkan menghina mitra dialog adalah tindakan bodoh yang sama dengan menunggu untuk melihat telur rebus menetas.”