Mengejar Keterlambatan Kamilah Bagian 2

Bukan cuma itu, posisi janin juga sungsang, sehingga memang harus operasi sesar. Anak saya, Kamilah, lahir prematur dengan berat badan 2 kg. Di hari pertama, Kamilah sempat berhenti bernapas karena kondisinya yang lemah.

Sebagaimana bayi prematur lainnya, Kamilah ditempatkan di inkubator dan baru diizinkan pulang setelah hari keenam. Ternyata, pertumbuhan bayi ku memang lambat dan mengalami kuning tipe breast milk jaundice, kuning karena ASI. Bayangkan saja, berat badannya hanya mencapai 1,9 kg pada hari ke-10. Saya sangat prihatin dengan perkembangan Kamilah. Saya pun melakukan scanning mata dan telinga karena khawatir tidak sempurna.

Alhamdulillah, kedua organ tersebut tidak mengalami gangguan. Saya sungguh sangat lega! Selain pertumbuhannya meng alami keterlambatan, Kamilah juga tidak aktif bergerak. Bahkan, lehernya pun tampak lunglai. Kamilah juga mudah sekali sakit. Pada usia 1 tahun, saya mengonsultasikan Kamilah ke spesialis saraf. Dokter menyatakan, Kamilah lemah fisik dan harus dikonsultasikan ke rehabilitasi medik. Menurut dr. Luh Karunia Wahyuni, SpRM, Kamilah mengalami ke ter lambatan pada perkembangannya karena saraf-sarafnya yang lemah.

Untuk mengatasi berbagai keterlambatan yang dialami Kamilah, dokter menyarankan pemberian stimulasi ekstra. Untuk itu, saya banyak melakukan sejumlah terapi. Saya pun selalu mendampingi terapi yang dilakukan agar dapat me lanjutkannya di rumah. Dengan demikian, terapi dapat dilakukan secara simultan. Saya yakin, dengan keseriusan dan kerja keras, niscaya berbagai keterlambatan yang dialami Kamilah dapat terkejar.