Pemerintah Perbaiki Aturan yang Diprotes Amerika Bagian 3

Dalam sidang yang berlangsung pada 23 Desember 2016, Indonesia kalah. Kementerian Perdagangan mengajukan permohonan banding, tapi kembali kalah. Dalam berkas yang diajukan ke WTO, Amerika Serikat mengaku merugi US$ 350 juta, sedangkan Selandia Baru kehilangan 1 miliar dolar Selandia Baru atau Rp 9,7 triliun. Namun hingga kini baru Amerika yang meminta WTO menjatuhkan sanksi.

WTO pun mewajibkan Indonesia mengubah 18 aturan impor hortikultura, hewan, dan produk hewani mulai 22 November 2017, dengan diawali tahap reasonable period of time (RPT) atau masa tenggang. Kasus ini bukan yang pertama kali terjadi. Pada 2013, Selandia Baru dan Amerika Serikat melayangkan gugatan sebagai respons atas kuota impor sapi dan ayam serta beberapa jenis buah dan sayur oleh pemerintah.

Namun Indonesia menghapus kuota impor sapi sejak semester II 2016. Ekonom dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, meminta pemerintah segera bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Menurut dia, permintaan sanksi ini bisa saja gugur, mengingat otoritas perdagangan Amerika lebih suka membawa sejumlah kasus ke ranah bilateral.

Fithra juga mengatakan pemerintah seharusnya mengurangi impor dari kedua negara tersebut seraya memperkuat daya saing produk hortikultura dan hewan. Kebutuhan Indonesia pada produk impor dari kedua negara masih cukup tinggi. Pada pertengahan 2017, misalnya, Indonesia mengimpor 24.700 ribu ton daging beku dari Selandia Baru. Apel asal Amerika juga menguasai 38 persen pasar.